Asal Usul Nama Nama Shalat Wajib 5 Waktu

Asal Usul Nama Nama Shalat Wajib 5 Waktu

Asal Usul Nama Nama Shalat Wajib 5 Waktu



Shalat adalah termasuk rukun Islam yang kedua setelah membaca 2 kalimat Syahadat. Shalat sendiri merupakan tolak ukur ketaqwaan seseorang karena Shalat dapat mencegah seseorang dari perbuatan munkar jika shalat yang dilakukannya dengan sungguh-sungguh.

Kata Shalat bias kita artikan Do’a sedangkan pengertiannya menurut istilah Syara’ adalah ucapan atau pekerjaan yang idmulai dengan takbir dan diakhiri atau ditutup dengan Salam, dengan syarat-syarat tertentu definisi shalat menurut Imam Rafi’i.

Shalat-shalat fardhu itu ada 5 dan tiap-tiap shalat  dikerjakan pada awal waktu (tepat waktu) secara lapang atau leluasa waktunya hingga menghampiri habisnya, waktu hamper habis disebut waktu sempit. Baiklah berikut uraian asal usul nama-nama shalat

1. Shalat Dhuhur
Menurut Imam Nawawi “Disebut Shalat Dhuhur karena shalat itu terlihat nyata pada pertengahan hari, awal waktunya sejak matahari condong ke barat dari tengah-tangah langit, bukan dengan meneliti keadaannya tapi dengan melihat realita (benda nyata terlihatnya).”

Yang demikian dapat diketahui pindahnya bayangan kearah timur setelah lenyap bayangan yang pendek, yaitu waktu matahari naik memuncak.

Dan akhir waktu shalat Dhuhur ialah ketika baying-bayang suatu benda sepadan bendanya (sama dengan bendanya) bukan baying-bayang ketika matahari tergelincir ke barat.

2. Shalat Ashar
Dinamakan shalat Ashar dikarenakan shalat Ashar (waktunya) hampir dekat dengan waktu Ghurub/terbenamnya matahri. Awal waktunya ialah ialah bayangan sesuatu bertambah panjang melebihi panjang aslinya maka waktu shalat Ashar sudah tiba

Dan waktu shalat Ashar terbagi menjadi 5 watu
Pertama, waktu fadhilah atau utama ialah shalat Ashar dikerjakan di awal waktu atau tepat waktu masuknya shalat.
Kedua, waktu ikhtiar yang mana akhir waktunya ikhtiar adalah hingga bayangan menjadi 2 kali lipat panjangnya disbanding bendanya
Ketiga, waktu jawaz yang mana akhir waktunya hingga matahari terbenam
Keempat, waktu jawaz yang tidak makruh yaitu sejak bayangan sebuah benda 2 kali lipat panjang bendanaya hingga awan menguning.
Kelima, waktu haram, yaitu mengakhirkan waktunya hingga tidak tersisa sedikitpun mengerjakan shalat Ashar.

3. Shalat Maghrib
Dinamakan shalat Maghrib karena shalat tersebut dikerjakan pada waktu matahari tenggelam maksudnya sesudah matahari tenggelam.
Waktunya itu cuman satu yaitu sejak matahaari tenggelam seluruhnyadan tidak berpengaruh surut berlalu setengah tenggelam.
Dan waktunya diperkirakan selama orang azan lalu berwudhu kemuadian bertayammum, berbenah diri untuk menutup aurat melakukan shalat fardhu sehabis itu melakukan shalat sunnah sebanyak 5 rakaat. Maka habislah waktu shalat maghrib. Pendapat tersebut adalah pendapat qaul jadid yaitu pendapat terbary sewaktu imam Syafi’e telah bermukim di Mesir. Sedangkan menurut Qaul Jadid yang didukung imam Nawawi bahwa sanya waktu shalat Maghrib lama atau panjangnya hingga lenyapnya mega merah (demikian dapat dilihat) dlaam kitab “Kasyifatus Saja”

4. Shalat Isyak
Dinakan shalat Isyak dengan huruf Ain berharakat kasroh adalah nama untuk permulaan gelapnya malam. Disebut demikian karena shalat Isyak itu dilakukan pada waktu gelapnya malam. Awal waktunya, sejak lenyapnya awan atau mega merah. Bagi daerah atau negeri yang tidak mengalami lenyapnya mega merah, makwaktu Isyak dikembalikan kepada ijtihad atau hak penduduk atau masyarakat setempat tersebut, sekiranya waktu berlalu setelah tenggelamnya matahari (tentu saja sehabis waktu maghrib)

Waktu Shalat Isyak terbagi menjadi 2 macam waktu
Pertama, waktu ikhtiar, yaitu bahwa akhir waktu ikhtiar itu panjang hingga sepetiga malam
Kedua, waktu jawaz yaitu waktu jawaz itu akhir waktu hingga terbitnya fajar shadiq, maksudnya munculnya cahaya di ufuk timur tampak nyata memancar.
Lain halnya dengan fajar Kadzib yang muncul sebelumnya, bukan membentang sebagaimana fajar shadiq tapi membujur lenyap di langit lalu benar-benar lenyap mengiringi kegelapan dan tidak ta’alluq tidak melekat pada fajar shadiq.

5. Shalat subuh
Dalam arti bahasa adalah permulaan siang. Dinamakan subuh karena shalat tersebut dikerjakan pada permulaan siang (pagi hari).

Sama halnya shalat Ashar, shalat Subuh juga dibagi menjadi 5 macam waktunya
Pertama waktu Fadhilah atau utama, yaitu awal waktunya dikerjakan tepat waktu setelah masuknya waktu
Kedua, waktu ikhtiar: awal waktunya dimuali sejak fajar shadiq tampak dan berakhir hingga remang-remang (waktu subuh bercahaya).
Ketiga, waktu jawaz yaitu jawaz yang makruh yakni akhir waktunya hingga munculnya matahari
Keempat, jawaz yang tidak makruh yaitu hingga munculnya mega merah di pagi hari
Kelima waktu haram yaitu mengakhirkan hingga tersisa sedikit waktu untuk shalat (terlalu sempit)

Baiklah demikian saja penuturan yang bisa niteluzz bagi kepada pembaca budiman jikalau ada kekeliruan ataupun kekurangan bisa ditambahkan dikolom komentar saya tutup dengan sebuah firman Allah yang artinya : “maka apabila kamu telah merasa aman, tegakkanlah shalat (seperti biasa). Sungguh shalat itu merupakan kewajiban bagi orang-orang mukmin, dengan waktu yang telah ditentukan. (QS. An-Nisa 103)

Silahkan share jika bermanfaat. Salam Niteluzz

Advertisement

Baca juga:

Your Reactions:

Admin
Seorang Blogger Pemula, berburu informasi dan berbagi wawasan yang bermanfaat adalah jalan ninjaku