9 Sebutan Nama Untuk Pulau Bawean - Masezzul.com

9 Sebutan Nama Untuk Pulau Bawean


9 SEBUTAN NAMA UNTUK PULAU BAWEAN

9-sebutan-untuk-pulau-bawean


Pulau Bawean merupakan sebuah pulau yang berada di Kabupaten Gresik. Namun meski demikian, pulau Bawean terpisah secara daratan dengan pulau Gresik. Masyarakat yang ada di kepulauan Jawa harus menyeberangi lautan untuk bisa sampai kepulau Bawean.

Pulau Bawean terkenal ke kalangan masyarakat ramai karena kaya akan budaya dan pariwisata namun sebenarnya bukan hanya itu, Pulau Bawean juga terkenal karena pulau yang di dalamnya masyarakatnya menganut agama Islam seratus persen dan orang-orangnya jago silat ataupun seni bela diri. Akan tetapi yang akan kita bagi disini bukan mengenai itu semua melainkan Sebutan-sebutan untuk pulau Bawean.

Pulau Bawean sebenarnya juga kaya akan nama sebutan untuknya. Beraneka macam sebutan untuk pulau Bawean dari zaman nenek moyang masyarakatnya hingga saat ini. Ada yang sudah terlupakan dan ada yang masih diingat oleh sebagian masyarakat saja.

Berikut 9 Sebutan Nama Untuk Pulau Bawean

1. Pulau MAJDI

Pulau bawean juga disebut Pulau Majdi. Berasal dari bahasa Arab. Dari kata “majdi” yang artinya “Uang Logam”. Terdapat di kitab kuno yang berbahasa Arab yang masih dimiliki oleh beberapa sesepuh di Bawean. Memang bentuk Pulau Bawean ini menyerupai uang logam.

2. Pulau MAJETI

Di dalam kisah Aji Saka disebut-sebut Pulau Majeti sebagai pulau persinggahan Aji Saka dan kedua penakawannya yakni Dora dan Sembada. Mungkin yang dimaksudkan adalah Pulau “Majdi” yang mungkin dikenal dengan Pulau Bawean.

3. Pulau BAWEYAN

Terdapat dalam literatur Jawa kuno, yaitu kitab asror yang arkhirnya dikenal dengan sebutan Buku Jangka Jayabaya. Disebutkan di kitab itu bahwa Pulau Baweayan merupakan batu loncatan imigran. Arab-muslim sebelum masuk ke Pulau Jawa sebelum pada abad masehi.

4. Pulau BAWEAN

Sebutan Pulau BAWEAN sebagai pengganti Pulau Majdi dan Pulau Majeti. Mulai dipakai sejak armada Kerajaan Majapahit terdampar di tengah laut karena  badai dahsyat dalam usahanya untuk mensukseskan “SUMPAH PALAPA”. Kemudian mereka selamat karena mendarat di pulau asing bagi mereka. Sejak itu mereka mulai menyebut pulau itu menjadi Pulau Bawean yang ternyata di pakai sampai sekarang.

5. Pulau BOYAN

Pulau Boyan berasal dari bahasa Arab. Bayan artinya bersinar. Orang asing dan orang yang berkulit putihpun kesulitan mengucapkan kata “BAWEAN” karena pengaruh lughotnya. Sehingga dengan enaknya mereka menyebut Pulau “Boyan” sebagai pengganti Pulau “Bawean”. Begitu juga putera-putera yang lahir di besarkan di Malaysia atau di Singapura yang lisannya juga telah dipengaruhi oleh bahasa Inggris. Maka lahirlah “kampung Boyan” di Malaysia, “pondok Boyan” di Singapura. Suku “Boyanese” dan lain-lain, yang kemudian Pulau Boyan.

6. Pulau DATOK (DATO)

Pulau Datok adalah sebutan sopan atau halus untuk Pulau Bawean di masa silam. Seorang penduduk yang  asli Bawean yang sudah lama merantau  di negri orang, tidak akan berani mengucapkan kata Bawean di tengah laut. Ketika mereka melihat pulaunya remang-remang di atas perahu atau kapal yang di tumpanginya, mereka menyebut Pulau Datuk sudah kelihatan. Baru setelah mereka menginjakkan kakinya ke daratan, ia berani mengucapkan “Pulau Bawean”.

7. Pulau PUTERI

Sebutan ini mula-mula di populerkan oleh para wartawan koran dan majalah di Pulau Jawa. Ia juga seenaknya menyebut nama lain dari Pulau Bawean. Ia menulis dan menyimpulkan bahwa dengan banyaknya kaum lelaki yang merantau, maka yang tertinggal di pulau hanyalah kaum hawa. Dari sana ia menyebut  Bawean sebagai Pulau Puteri, Pulau Perempuan atau Pulau Wanita. Ini terjadi terutama pada tahun 1930-an.

Di samping itu kalangan anak-anak dan kakek-nenek masih banyak terlihat. Mereka (kaum lelakinya) baru pada usia senja pulau kampung. Sehingga Emmanuel Subangan, wartawan Kompas, pada tahun 1976 pernah menyebut Pulau Bawean sebagai “pulau kelahiran dan kematian”. Mereka lahir di Bawean, bekerja di negri seberang dan jika usia sudah udzur mereka baru pulang kembali ke kampung halamannya,dengan kata lain mereka ingin menghembuskan nafasnya terakhir di pangkuan sanak keluarganya di pulau kelahirannya.

8. Pulau TRIPARDIKAN

Nama ini di beri oleh Drs. Isa Moekti, Pembantu Bupati Daerah Tingkat II Gresik wilayah kerja Bawean. Pejabat asal kota Surabaya tersebut bertugas di Pulau Bawean selama 2 tahun 6 bulan sejak tanggal 20 Februari 1984 sampai dengan 29 Oktober 1986. Di tengah-tengah kesibukan kerjanya itu tampaknya beliau menangkap potensi Pulau B awean dari sisi husus.
(a) Pulau bawean lebih menonjol kegiatan keagamaannya. Di  sana-sini terlihat pondok dan santri.
(b) Banyak objek wisata yang belum dibuka, yang cukup menarik untuk dijadikan tempat pariwisata.
 (c) Pendidikanpun cukup maju,setidaknya bergerak untuk maju. Hal ini dapat dilihat dari jumlah lembaga pendidikan di Pulau Bawean.
(d) Bapak Isa Moekti juga menilai kegiatan rakyat yang perlu dilestarikan dan dikembangkan adalah anyaman tikarnya. Sehingga beliau menyimpulkan bahwa BAWEAN merupakan Pulau Santri, pariwisata, pendidikan dan pulau anyaman. Yang kemudian diucapkan dalam singkata Pulau Tripardikan.

9. Pulau NU (Nahdlatul Ulama)

Pimpinan NU Cabang Surabaya tahun 1929-1939 pernah memprogramkan propaganda husus ke Pulau Bawean. Suatu program yang pertama kali di lakukan oleh organisasi keagamaan di Indonesia. K.H. Goefran Fakih (Rais Syuriyah) dan H.M. Thohir Bakry (Tanfidziyah) kemudian mengutus empat orang untuk menjelaskan “Ke-NU-an” pada masyarakat Pulau Bawean. Ke empat orang itu adalah H.M. Thohir Bakry, K.H. Moh. Imam, K.H. Moh Wahib bin Abdul Wahab, dan K. H. Wahab Chasbullah (tapi kemudian diwakili K. H. Abdul Kariem Hasyim, Tebuireng, Jombang).\

Mereka diantara oleh tokoh Bawean bernama H. Famry. Pada tahun 1934, rombongan tiba di Bawean. Desa yang pertama kali di masuki adalah Desa Pekalongan, Kecamatan, Tambak. Dari sana mereka beroprasi  masuk desa keluar kampung. Sambutan masyarakat Bawean sangat antusias. Dalam waktu 15 hari semua desa telah mengibarkan bendera NU. Tak satu desa atau kampungpun ketinggalan. Semuanya menyatakan dirinya NU.

Maka tak heran jika kini terdapat 262 musholla. 105 masjid jamik( masjidnya NU, 67 MINU (madrasah ibtidaiyah NU), 12 sekolah menengah NU, dan 12 pesantren, semuanya sebagai sarana ibadah dan pendidikan rakyat NU di Bawean.

Sejak diislamkan oleh Maulana Umar Mas’ud sekitar tahun 1601 masehi, masyarakat Bawean hanya mengenal organisasi keagamaan NU ini. Muhammadiyah? Juga ada. Tapi menurut Drs. Choirul Anam, jumlahnya hanya minoritas saja.

Maka selanjutnya Choirul Anam (wartawan majalah EDITOR) menyimpulkan bahwa Bawean sangat tepat jika di juluki Pulau NU. Dan ini sudah dinyatakan dalam majalah  AULA Nomor 44 bulan Agustus 1986.

Jika ingin membaca artikel lainnya anda bisa mengunjungi blog yang lainnya dengan mengklik link ini
Ataupun jika anda ingin menambahkan, silahkan anda tambahkan di kolum komentar dan jika kepengin berbagi silahkan anda berbagi dan sharing

0 Response to "9 Sebutan Nama Untuk Pulau Bawean"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel