Sejarah Singkat Dan Perkembangan MAHASISWA PECINTA ALAM (MAPALA) BAWEAN - Masezzul.com

Sejarah Singkat Dan Perkembangan MAHASISWA PECINTA ALAM (MAPALA) BAWEAN

Sejarah Singkat Dan Perkembangan MAHASISWA PECINTA ALAM (MAPALA) BAWEAN

(Oleh : Aminuddin)
sejarah mapala bawean

Organisasi MAPALA merupakan salah satu organisasi yang berdiri sejak 12 Desember 1964 di Universitas Indonesia (UI) . Mapala merupakan wadah bagi mahasiswa Universitas Indonesia untuk berkegiatan di alam bebas, berkontribusi bagi masyarakat, serta peduli terhadap pelestarian lingkungan.

Mapala UI berdiri di Bukit Ciampea, Bogor. Nama yang digunakan waktu itu adalah Mapala Prajnaparamita. Prajnaparamita diambil dari bahasa Sanskerta yang berarti Dewi Pengetahuan. Mapala juga bermakna berbuah atau berhasil. Ide pembentukan organisasi pelopor pecinta alam di kampus ini dicetuskan oleh Soe Hok Gie, seorang aktivis mahasiswa terkemuka. Jenuh dengan situasi yang penuh intrik dan konflik politik di kalangan mahasiswa waktu itu, Hok Gie mengusulkan untuk membentuk suatu organisasi yang bisa menjadi wadah berkumpulnya berbagai kelompok mahasiswa.


Sedangkan sejarah perkembangan Mapala di Bawean, yang mana organisasi Mapala Bawean merupakan suatu organisasi yang belum terbentuk secara terstruktur dan belum mempunyai prodak hukum secara formal, Mapala Bawean sempet di wcanakan akan di dirikan di kampus Staiha Bawean sekitar pada tahun 2016 oleh beberapa mahasiswa organisatoris yang terinspirasi dengan jejak langkah seorang perintis Mapala di kampus UI yang sudah tidak lagi asing di kalangan mahasiswa yakni Soe Hok Gie, namun  apalah, hanya wacana yang tak bisa jadi kamitmen panjang dalam meneruskan wacana tersebut.
    
Hari demi hari silih berganti, Mahasiswa yang sempet tergabung saat pewacanaan  pendirian Mapala pada waktu itu, tetap berjalan dalam menjalankan misinya sebagai bentuk dalam memenuhi hasratnya dalam  bentuk kegiatan di alam bebas, seperti menjalajahi gunung-gunung _(camping_ & _hiking_) dan berbagai medan tempat yang ada di pulau Bawean yang telah di kunjunginya, walau yang tergabung di dalamnya hanya beberapa mahasiswa yang ingin bergabung sebagai simpatisan pecinta alam Bawean, namun tidak mengurangi rasa semangat bagi mereka untuk berkomitmet dalam menjalankan berbagai kegiatan di alam bebas.
   
Mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA) Bawean, yang mana anggota yang tergabung di dalamnya tidak lepas dari simpatisan aggota dan kader-kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Bawean, baik mahasiswa yang tergabung dari kampus STIT RSG maupun dari STAIHA Bawean, karena tidak munafikan meraka yang selalu berkomitmen dalam mengadakan kegiatan-kegiatan belajar di alam bebas, disamping dalam mengaplikasikan salah satu nilai dasar pergerakan yang ada dalam prodak hukum PMII itu sendiri yakni hablum minal alam (hubungan dengan alam), sebagai bentuk kecintaan mereka terhadap alam yang ada di sekitarnya disamping hungan dengan tuhan dan sesama, dan di kemas dengan bentuk kegiatan _hiking_ maupun _camping_ dalam menjalajahi hutan,  gunung, danau dan pantai yang ada di Bawean, dan hampir seluruh penjuruh tempat yang ada di Bawean sudah pernah mereka kunjungi.
    
Di samping mahasiswa yang tergabung dalam PMII hanya sekedar rekreasi dalam meniknati indahnya kealamian alam Bawean seperti kegiatan _hiking_ maupun _camping_ (simpatisan PMII Mapala Bawean), mahasiswa yang tergabung dalam PMII juga sempat melakukan penanaman pohon magrove hijau daun di daerah Ds.Daun, Dsn.Daun laut yang bergabung dengan masyarakat setempat, di samping itu, PMII juga sering dalam melakukan advokasi kepada pihak kepemerintan BKSDA (badan koservasi sumberdaya alam) kantor Bawean untuk menegaskan kembali akan peran BKSDA terhadap perlindungan hewan-hewan indemik yang hampir punah yang ada di pulau Bawean, di samping itu juga agar pihak BKSDA melakukan observasi dan reboisasi hutan-hutan gundul di Bawean dan menindak tegas ketika ada penebangan hutan secara liar oleh oknom-oknom yang tidak bertanggung jawab.
     
   
Mahasiswa Bawean yang di pelopori oleh PMII, sempet melakukan unjuk rasa saat peringatan hari pahlawan 10 November 2016 lalu kepada pihak kecamatan dan pihak parawisata yang beraliansi pemuda peduli Bawean yang mendeklarasikan dengan statment "jangan nodai pulau kami", dan moment tersebut yang sempat menggencarkan di seluruh media massa pada waktu itu, yang merupakan sebagai bentuk rasa kecintaan mahasiswa dan pemuda terhadap pulau Bawean saat pemerintah menjadikan Bawean sebagai pulau pariwisata, walau aksi solidaritas tersebut sempat terjadi kontroversi di kalangan tertentu.
 
Berangkat dari sinilah, salah satu faktor yang mempengaruhi khususnya mahasiswa PMII yang tetap bersikukuh dalam mengadakan kegiatan-kegiatan di alam bebas disamping mengawal kinerja BKSDA sebagai badan hukum yang resmi secara legitimasi dalam melindungi Alam Baweam. dan Tepat pada hari senin (malam selasa) tanggal 29 Oktober 2018, pasca peringatan hari santri nasional dan di tengan menyambut hari pahlawan nasional 10 November 2018 simpatisan dari Mahasiswa PMII Bawean kembali mengadakan agenda _Camping_discution_ (diskusi kemping) yang kesekian kalinya yang di koordinatori oleh sahabat Aminuddin, tepatnya di gunung talitubis keppuh telluk bayangkara, Kec. Tambak, dengan mengangkat tema: merangsang kembali semangat nasionalis pemuda dalam mengenang jaza pahlawan, yang merupakan cikal bakal di bentuknya organisasi mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA) Bawean yang di pelopori oleh beberapa sahabat PMII Bawean yang salah satu di antaranya adalah sahabat Guntur, sahabat Aminuddin, sahabat Khirul Anwar, sahabat Wahyu dkk, dan pada waktu itu juga mereka berkomitmen untuk membentuk suatu komunitas pecinta alam, yang bernama MAPALA (mahasiswa pecinta alam) BAWEAN secara independen yang terlepas dari afiliasi oraganisasi manapun dan membuka anggota kepada mahasiswa/i  secara umum, baik yang non-Organ maupun berbagai macam latar oraganisasi kemahasiswaan yang ingin bergabung di dalamnya.
  
Agenda camping yang kedua, pasca deklarasi MAPALA yaitu bertempat di gunung beringin tepatnya di Dsn. Balik Terus yang merupakan salah satu gunung yang ektrim secara medan perjalanan menuju lokasi maupun secara mistis dan merupakan salah satu gunung tertinggi yang ada di pulau Bawean, sehingga dengan ketinggianny banyak kabut/awan yang mengelilingi dan dapat menghalangi indahnya pemandangan bahkan danau kastoba bisa kelihatan dari jarak jauh ketinggian gunung beringin saat cuaca terang, dan perjalanan menuju lokasi sekitar satu jam-an dari tempat parkir motor.
sejarah mapala bawean

      Pasca peringatan hari Pahlawan nasional 10 november 2018, MAPALA kembali muncak yang ketiga kalinya tepatnya pada hari sabtu (malam ahad) tanggal 17 November 2018, yang sasaran lokasi pertama bertempat di gunung soka, namun apalah daya, kami hanya tinggal mendaki tinggal lelah, karena tidak menemukan sasaran lokasi yang dituju alias salah jalur, maklum kami sudah tiga tahun tidak nyampek lagi ke gunung tersebut, sehingga kami memutuskan untuk merubah haluan pada malam waktu itu juga untuk pindah lokasi _camping_ di gunung nanas di atas tepat sebelah utara kolam Sajje dan malam itu kami sempet kecewa karena tidak menemukan lokasi sasaran pertama, namun kekecewaan itu telah berganti dengan kenangan manis bagi kami Mapala, dan malam itu kami sangat merasakan akan solidaritas yang tak mungkin terlupakan sepanjang masa, dan dari alam kita bisa bersyukur kepada tuhan yang maha esa yang telah memberikan oksigen secara geratis yang mana telah menghidupi seruh umat manusia, maka itu mari kita rawat dan jaga lingkungan kita dari kerusakan ulah tangan manusia. Saat menyatu dengan alam ingin rasanya suatu saat kami tua nanti tetap bisa melihat keindahan dan merasakan kealami alam di pulau Bawean tercinta ini.
"Cintailah alam agar kita juga di cintai oleh alam dengan belas kasih tuhan sebagai pencipta alam"
-Ikuti cerita kami selanjudnya: MAPALA BAWEAN
sejarah mapala bawean

0 Response to "Sejarah Singkat Dan Perkembangan MAHASISWA PECINTA ALAM (MAPALA) BAWEAN"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel