Misteri dan Sejarah Singkat Pulau Bawean di Masa Penjajahan - Masezzul.com

Misteri dan Sejarah Singkat Pulau Bawean di Masa Penjajahan

Misteri dan Sejarah Pulau Bawean di Masa Penjajahan

Misteri dan Sejarah Singkat Pulau Bawean di Masa Penjajahan


Melanjuti kisah misteri kemaren yang mana dijelaskan di Bawean terdapat beberapa misteri namun yang diutarakan kami hanyalah rusa Bawean dan kendung Pote

Dan pada kali ini kami tidak hanya akan membahas misteri namun juga sejarah Bawean masa penjajahan

Pulau Bawean memiliki rusa langka yang baik, satu-satunya jenis rusa di dunia yang hanya terdapat di Bawean. Tubuhnya ramping, beranduk bercabang-cabang, dagingnya enak dimakan, berbulu mengkilat dan indah yang disebut Axis Kuhli (Rusa Bawean). Lantaran rusa inilah John Blower dan Releigh A. Blouch keduanya anggota  World Wildlife Fund (WWF) Amerika datang ke Bawean untuk melestarikan populasi Axis Kuhli yang masing-masing datang pada tahun 1960 dan 1979. Mereka datang untuk menjaga dan menangkarkan Axis Kuhli. Usaha mereka ternyata tidak sia sia. Axis Kuhli yang bertahun-tahun sebelum itu hanya tersisa beberapa ekor saja karena sering diburuh penduduk.

Diceritakan pula bahwa Pulau Bawean memiliki pohon sakti yakni kendung pote, kendung (Symplocos Laurina) ialah pohon yang kulit batangnya untuk menguatkan zat warna. Dan ternyata kini. Bawean terkenal karena memiliki kerajinan anyaman tikarnya dengan warna khas. Motifnya baik, anyamannya rapat dan kuat. Serta memiliki perpaduan warna yang memikat dan sulit untuk luntur . Banyak orang Bawean yang naik haji zaman dulu dari anyaman tikar ini. Setidaknya ada dari desa Gunungteguh di Bali dan di Yogyakarta yang kaya raya hanya dengan berwirausaha anyaman tikar khas Bawean yang satu ini.

Sedangkan yang dimaksud dengan gua di bawah laut itu, ialah sumber minyak. Dan sekarang di perairan antara Bawean dan Madura telah dibangun pengeboran minyak tanah

Pulau Bawean memang selalu tampil  unik. Sejak dulu, Pulau Bawean selalu menjadi incaran "orang luar". Lihat saja sejarah. Pemerintah kolonial Belanda sangat memperhatikan pulau Bawean. Hal ini bukan cerita fiktif lagi, tetapi bisa dibuktikan dengan sejarah tertulis dan beberapa bukti hidup. Pada masa penjajahan Belanda,  Bawean boleh dikatakan amat jaya. Walaupun jalan keliling di pulau Bawean belum diaspal, namun orang-orang pada saat itu sudah naik sepeda pancal berboncengan keliling Bawean dengan enak dan lancar. Pak guru Ahdi, Laut Sungai tiap hari pulang pergi dari Sangkapura ke kepuh teluk naik sepeda jntuk mengajar murid-muridnya di desa Kepuhteluk.

Pada zaman dulu. Transportasi lautpun sudah lumayan lancar dan teratur karena antara Surabaya-Bawean-Banjarmasin- Singapura merupakan jalur segitiga yang dilayari oleh kapal besi yang layak, tangguh dan berwibawa berukuran 750 tonase. Tiap minggu kapal penumpang itu pasti sudah berlabu di pelabuhan Sangkapura yang siap mengangkut  orang-orang  Bawean yang akan ke Banjarmasin, Singapura ataupun Surabaya.

Belanda juga menyediakan fasilitas yang memadai : kantor pos dan giro, kantor telegram dan telekomunikasi serta telepon, pusat meteorologi dan geofisika; gudang gudang besar seperti gudang beras, garam dan minyak bahkan gudang senjata dan juga fasilitas lainnya. Pada masa Belanda Bawean sedikit dimanja jika melihat ke daerah daerah yang lain.

Ketika perang dunia II berkecamuk, dalam hal ini Perang Asia Timur Raya dan Jepang telah akan mulai menampakkan kemenangannya,  maka panglima perang Jepang merasa perlu untuk menggempur pulau Bawean.

Menurut Dr. Saetoyo dosen UNAIR Surabaya, "Pulau Bawean merupakan satu-satunya pulau kecil di Indonesia yang dibom Jepang". Dari sekitar 27 pesawat tempur udara jepang yang beriringan di langit Bawean. Tentu pengeboman itu tidak tidak spekulasi, tidak asal-asalan. Jepang menilai Pulau Bawean adalah memang pulau yang berpotensi, terutama dari segi letak geografisnya yang strategis. Tentu di Bawean ada apa-apanya", lanjut Dosen yang sangat senior tersebut.

Dan andaikata kepulauan nusantara ini diumpamakan sebuah tubuh, maka pulau Bawean merupakan pusarnya atau bujhelnya. Statemen ini bisa direlevansikan dengan beberapa kisah kisah tentang pulau Bawean yang sudah saya tuliskan ulang dari kisah-kisah pulau Bawean. Dan memang pulau Bawean kalau dilihat dari Peta memang laksana sebuah titik di antara pulau pulau nusantara ini. Tanda titik merupakan penentu dalam sebuah kalimat pertanyaan.

Pada tulisan kali ini kami minta maaf bila tulisan kali ini kurang bagus bisa dilihat tulisan lainnya jika kurang memuaskan.

0 Response to "Misteri dan Sejarah Singkat Pulau Bawean di Masa Penjajahan"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel