Menuju Pesta Demokrasi
Menuju Pesta Demokrasi
Penulis Ezzul Media

Menuju Pesta Demokrasi

Menuju Pesta Demokrasi

(Aminuddin)

     Di tengah-tengah hirup-pikuknya politisasi yang terjadi semakin memanas dalam bangsa ini, kita hidup bagaikan berjalan di tengah-tengah gurun pasir yang panas yang hanya untuk mengejar metavorgana demi meraih kehidupan didepan sana, namun tak tentu arah dimana batas dan keberadaanya berada, sama halnya saat kita meratapi masa depan bangsa ini yang semakin carut-marutnya perpolitikan demi kepentingan sepihak, seolah-olah kita tidak tau dimana kebenaran yang sebenarnya berada, karena semua yang terdengar ditelingah kanan dan kiri bahwa semuanya menyatakan benar, tapi jika semua memang benar, lalu mengapa kesejahteraan hanya menjadi ilusi dan iming-iming dalam sebuah teks yang mengambang di udara, dan yang mana kemerdekaan hanya menjadi simbolis dalam monomen bangsa saja, konon kemerdekaan sebagai syarat dalam terbentuknya sebuah negara agar bisa diakui oleh dunia dan di sisi lain semata-mata hanya karena tidak ingin dijajah lagi oleh asing, namun nyatanya mengapa rakyat selalu terjajah oleh penguasanya sendiri, yang melarat semakin melarat dan yang kayah semakin kayah, sebenarnya ada apa dengan bangsa ini?, Sebagaimana menurut Jalaluddin Rahmad, memberikan persepsi khusus tentang kemiskinan itu sendiri bahwa kemiskinan bagian dari buruknya tatanan ekonomi, sosial atau lebih jelas lagi sifat tirani dari elit-elit politik di negara.


Munkin apa benar telah sampai dimana zaman yang pernah di katakan oleh sang proklamator bangsa ini, bahwa dizamanku masih lebih baik dari pada dizamanmu, dulu saya berperang melawan para penjajah asing, tapi dizamanmu akan lebih sulit, karena melawan bangsamu sendiri. Apakah juga ini yang dimaksud oleh Ir.Suekarno dulu, bahwa inilah jawaban dari barhasa bangsa kita sendiri. Dulu Suekarno pernah mengatakan bahwa: "Biarlah bangsa ini berbicara dengan bahasanya sendiri". Dimana sekarang politik yang sudah menkarakter dan di percaya oleh banyak orang bahwa politik sebagai akar masalah dalam bangsa ini yang menyebabkan terjadinya korupsi, nepotisme, suap sbg. Kini telah umum di ketahui bahwa politik sebagai senjata terampuh oleh para oknom penguasa bangsa ini yang mempunyai misi kepentingan internal dan kelompok tertentu, dan inilah salah satu sebab yang fondamental yang menyebabkan terjadinya kerugian terhadap keuangan negara ini. Idealnya dalam pendidikan politik bahwa sesungguhnya politik itu baik, yang mana politik sebagai alat untuk mencapai tujuan tertentu. Namun kini ilmu politik telah banyak disalah artikulasikan, sehingga para oknom politikus semakin meraja lela untuk melahap semua yang menjadi kepentingan pribadi dan kelompok tertentu tanpa memperhatikan dan mempertimbangkan siapa yang mempunyai hak atas itu sebenarnya.

Penulis sangatlah tergiur untuk menyatakan hasratnya kepada bangsa ini melihat pergolakan politik yang terjadi saat menuju pesta demokrasi yang akan datang, penulis nyatakan dalam sebuah tulisan artikel yang takseberapa tersusun bagus ini. baik, kita perhatikan betapa maraknya pertikaian antar partai politik yang membela secara mati-matian atas calon yang di usunngnya, baik di tingkat pusat, profensi maupun daerah tanpa memperhatikan baik dan buruknya cara  dengan menghalalkan segala cara. Memang benar bahwa negara kita adalah negara hukum yang sistemnya yaitu demokrasi, lantas, mengapa hukum di negara kita tak kala bedanya dengan parang/pisau yang hanya tajam kebawah dan tumpul keatas, dan istilah ini bukan hanya dinyatakan di tingkat mahasiswa saja, tak usah kita jelaskan makna yang terkandung dari istilah itu karena kita semua sudah sama-sama mengerti, akan tetapi bahkan sampai pada tingkat para doktor dan profesor menyatakan akan bobroknya hukum di negara kita. Pertanyannya disini adalah mengapa istilah itu semakin mengkarakter bagi kita, atau apakah dari para ilmuan hukum itu sendiri yang menjadi plakor dari istilah tersebut sehingga menjadi penyakit kronis bagi bangsa ini yang sulit untuk di sembuhkan. Barda Nawawi Arief berpendapat bahwa penegakan hukum adalah menegakkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan, disini brrarti bahwa penegakan hukum dipercaya oleh masyarakat untuk menegakkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan yang terkandung dalam hukum. Namun demikian dalam penegakan hukum itu terdapat sisi yang penting yaitu peran serta masyarakat sipil, yang kemudian disebut kontrol sosial.



Lalu kemudian yang menjadi pertanyaan ke dua adalah ada apa dengan demokrasi di negri ini?, mengapa disetiap pernyataan demokrasi tapi disitu masih ada intervensi, tendensi bahkan ada yang di ancam hak kemanusiaannya. Apakah seperti ini demokrasi yang sebenarnya, saat berbicara di depan umum terlihat begitu ramah dan sopan tanpa ada satupun kata yang melanggar dengan hukum prundang-undangan yang seakan-akan semuanya tidak ada yang purlu di permasalahkan dengan hak suara, namun mengapa setelah itu harus melakukan negosiasi pada masyarakat dengan melakukan MONEY POLITIK yang bervareasi membeli suara rakyat dengan harga yang tak seberapa besar nilainya. Dengn demikian lantas.! Dimana letak Demokrasi yang sesungguhnya, sedangkan hal ini sudah menjadi rahasia umum bagi kita. Sebagaimana Prof.Dr. Muladi.SH mengatakan bahwa kriminalisasi terhadap tindak pidana suap mempunyai alasan yang sangat kuat, sebab kejahatan tersebut tidak lagi di pandang sebagai kejahatan konvensional, melainkam sebagai kejahatan luar biasa, karena karakter suap yang sangat kriminogin (dapat jadi sumber kejahatan lain) dan Viktimogin (secara potensial dapat merugikam belbagai demensi kepentingan.

Dengan krisisnya kesadaran kritis di tengah-tengah masyarakat, telah menjadikan manusia bergantung kepada orang lain dan melihat kehidupan sebagai hal yang harus dijalani dan diakhiri dengan hukum alam dan coretan takdir tuhan. Hal ini sebagaimana Pulo Freire berpendapat bahwa menempatkan kesadran kritis sebagai puncak kesadaran yang berada di atas dua kesadaran lainnya, yaitu kesadaran Magis dan kesadaran Naif. Dari sini bagaimana peran kita sebagai masyarakat bawah juga mempunyai rasa  peduli terhadap atas ternodainya demokrasi di negri kita ini, karena hal itulah salah satu yang menyebabkan terhambatnya kemajuan dalam suatu negara, bagaimana agar supaya demokrasi yang ada di negara kita ini benar-benar bisa menerapkan demokrasi yang sesungguhnya yakni membuang demokrasi pada tempatnya (dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat). Karena menurut Prof.Dr. Hamka juga menjelaskan bahwa kesadaran kritis ini sangatlah penting karena kesadaran kritis akan melahirkan tindakan dan sikap masyarakat sipil untuk hidup lebih baik dan turut serta terlibat sebagai aktor dari kemajuan zaman.

Munkin apa benar telah sampai dimana zaman yang pernah di katakan oleh sang proklamator bangsa ini, bahwa dizamanku masih lebih baik dari pada dizamanmu, dulu saya berperang melawan para penjajah asing, tapi dizamanmu akan lebih sulit, karena melawan bangsamu sendiri. Apakah juga ini yang dimaksud oleh Ir.Suekarno dulu, bahwa inilah jawaban dari barhasa bangsa kita sendiri. Dulu Suekarno pernah mengatakan bahwa: "Biarlah bangsa ini berbicara dengan bahasanya sendiri". Dimana sekarang politik yang sudah menkarakter dan di percaya oleh banyak orang bahwa politik sebagai akar masalah dalam bangsa ini yang menyebabkan terjadinya korupsi, nepotisme, suap sbg. Kini telah umum di ketahui bahwa politik sebagai senjata terampuh oleh para oknom penguasa bangsa ini yang mempunyai misi kepentingan internal dan kelompok tertentu, dan inilah salah satu sebab yang fondamental yang menyebabkan terjadinya kerugian terhadap keuangan negara ini. Idealnya dalam pendidikan politik bahwa sesungguhnya politik itu baik, yang mana politik sebagai alat untuk mencapai tujuan tertentu. Namun kini ilmu politik telah banyak disalah artikulasikan, sehingga para oknom politikus semakin meraja lela untuk melahap semua yang menjadi kepentingan pribadi dan kelompok tertentu tanpa memperhatikan dan mempertimbangkan siapa yang mempunyai hak atas itu sebenarnya.

Penulis sangatlah tergiur untuk menyatakan hasratnya kepada bangsa ini melihat pergolakan politik yang terjadi saat menuju pesta demokrasi yang akan datang, penulis nyatakan dalam sebuah tulisan artikel yang takseberapa tersusun bagus ini. baik, kita perhatikan betapa maraknya pertikaian antar partai politik yang membela secara mati-matian atas calon yang di usunngnya, baik di tingkat pusat, profensi maupun daerah tanpa memperhatikan baik dan buruknya cara  dengan menghalalkan segala cara. Memang benar bahwa negara kita adalah negara hukum yang sistemnya yaitu demokrasi, lantas, mengapa hukum di negara kita tak kala bedanya dengan parang/pisau yang hanya tajam kebawah dan tumpul keatas, dan istilah ini bukan hanya dinyatakan di tingkat mahasiswa saja, tak usah kita jelaskan makna yang terkandung dari istilah itu karena kita semua sudah sama-sama mengerti, akan tetapi bahkan sampai pada tingkat para doktor dan profesor menyatakan akan bobroknya hukum di negara kita. Pertanyannya disini adalah mengapa istilah itu semakin mengkarakter bagi kita, atau apakah dari para ilmuan hukum itu sendiri yang menjadi plakor dari istilah tersebut sehingga menjadi penyakit kronis bagi bangsa ini yang sulit untuk di sembuhkan. Barda Nawawi Arief berpendapat bahwa penegakan hukum adalah menegakkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan, disini brrarti bahwa penegakan hukum dipercaya oleh masyarakat untuk menegakkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan yang terkandung dalam hukum. Namun demikian dalam penegakan hukum itu terdapat sisi yang penting yaitu peran serta masyarakat sipil, yang kemudian disebut kontrol sosial.

Lalu kemudian yang menjadi pertanyaan ke dua adalah ada apa dengan demokrasi di negri ini?, mengapa disetiap pernyataan demokrasi tapi disitu masih ada intervensi, tendensi bahkan ada yang di ancam hak kemanusiaannya. Apakah seperti ini demokrasi yang sebenarnya, saat berbicara di depan umum terlihat begitu ramah dan sopan tanpa ada satupun kata yang melanggar dengan hukum prundang-undangan yang seakan-akan semuanya tidak ada yang purlu di permasalahkan dengan hak suara, namun mengapa setelah itu harus melakukan negosiasi pada masyarakat dengan melakukan MONEY POLITIK yang bervareasi membeli suara rakyat dengan harga yang tak seberapa besar nilainya. Dengn demikian lantas.! Dimana letak Demokrasi yang sesungguhnya, sedangkan hal ini sudah menjadi rahasia umum bagi kita. Sebagaimana Prof.Dr. Muladi.SH mengatakan bahwa kriminalisasi terhadap tindak pidana suap mempunyai alasan yang sangat kuat, sebab kejahatan tersebut tidak lagi di pandang sebagai kejahatan konvensional, melainkam sebagai kejahatan luar biasa, karena karakter suap yang sangat kriminogin (dapat jadi sumber kejahatan lain) dan Viktimogin (secara potensial dapat merugikam belbagai demensi kepentingan.

Dengan krisisnya kesadaran kritis di tengah-tengah masyarakat, telah menjadikan manusia bergantung kepada orang lain dan melihat kehidupan sebagai hal yang harus dijalani dan diakhiri dengan hukum alam dan coretan takdir tuhan. Hal ini sebagaimana Pulo Freire berpendapat bahwa menempatkan kesadran kritis sebagai puncak kesadaran yang berada di atas dua kesadaran lainnya, yaitu kesadaran Magis dan kesadaran Naif. Dari sini bagaimana peran kita sebagai masyarakat bawah juga mempunyai rasa  peduli terhadap atas ternodainya demokrasi di negri kita ini, karena hal itulah salah satu yang menyebabkan terhambatnya kemajuan dalam suatu negara, bagaimana agar supaya demokrasi yang ada di negara kita ini benar-benar bisa menerapkan demokrasi yang sesungguhnya yakni membuang demokrasi pada tempatnya (dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat). Karena menurut Prof.Dr. Hamka juga menjelaskan bahwa kesadaran kritis ini sangatlah penting karena kesadaran kritis akan melahirkan tindakan dan sikap masyarakat sipil untuk hidup lebih baik dan turut serta terlibat sebagai aktor dari kemajuan zaman.

Munkin apa benar telah sampai dimana zaman yang pernah di katakan oleh sang proklamator bangsa ini, bahwa dizamanku masih lebih baik dari pada dizamanmu, dulu saya berperang melawan para penjajah asing, tapi dizamanmu akan lebih sulit, karena melawan bangsamu sendiri. Apakah juga ini yang dimaksud oleh Ir.Suekarno dulu, bahwa inilah jawaban dari barhasa bangsa kita sendiri. Dulu Suekarno pernah mengatakan bahwa: "Biarlah bangsa ini berbicara dengan bahasanya sendiri". Dimana sekarang politik yang sudah menkarakter dan di percaya oleh banyak orang bahwa politik sebagai akar masalah dalam bangsa ini yang menyebabkan terjadinya korupsi, nepotisme, suap sbg. Kini telah umum di ketahui bahwa politik sebagai senjata terampuh oleh para oknom penguasa bangsa ini yang mempunyai misi kepentingan internal dan kelompok tertentu, dan inilah salah satu sebab yang fondamental yang menyebabkan terjadinya kerugian terhadap keuangan negara ini. Idealnya dalam pendidikan politik bahwa sesungguhnya politik itu baik, yang mana politik sebagai alat untuk mencapai tujuan tertentu. Namun kini ilmu politik telah banyak disalah artikulasikan, sehingga para oknom politikus semakin meraja lela untuk melahap semua yang menjadi kepentingan pribadi dan kelompok tertentu tanpa memperhatikan dan mempertimbangkan siapa yang mempunyai hak atas itu sebenarnya.

Penulis sangatlah tergiur untuk menyatakan hasratnya kepada bangsa ini melihat pergolakan politik yang terjadi saat menuju pesta demokrasi yang akan datang, penulis nyatakan dalam sebuah tulisan artikel yang takseberapa tersusun bagus ini. baik, kita perhatikan betapa maraknya pertikaian antar partai politik yang membela secara mati-matian atas calon yang di usunngnya, baik di tingkat pusat, profensi maupun daerah tanpa memperhatikan baik dan buruknya cara  dengan menghalalkan segala cara. Memang benar bahwa negara kita adalah negara hukum yang sistemnya yaitu demokrasi, lantas, mengapa hukum di negara kita tak kala bedanya dengan parang/pisau yang hanya tajam kebawah dan tumpul keatas, dan istilah ini bukan hanya dinyatakan di tingkat mahasiswa saja, tak usah kita jelaskan makna yang terkandung dari istilah itu karena kita semua sudah sama-sama mengerti, akan tetapi bahkan sampai pada tingkat para doktor dan profesor menyatakan akan bobroknya hukum di negara kita. Pertanyannya disini adalah mengapa istilah itu semakin mengkarakter bagi kita, atau apakah dari para ilmuan hukum itu sendiri yang menjadi plakor dari istilah tersebut sehingga menjadi penyakit kronis bagi bangsa ini yang sulit untuk di sembuhkan. Barda Nawawi Arief berpendapat bahwa penegakan hukum adalah menegakkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan, disini brrarti bahwa penegakan hukum dipercaya oleh masyarakat untuk menegakkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan yang terkandung dalam hukum. Namun demikian dalam penegakan hukum itu terdapat sisi yang penting yaitu peran serta masyarakat sipil, yang kemudian disebut kontrol sosial.

Lalu kemudian yang menjadi pertanyaan ke dua adalah ada apa dengan demokrasi di negri ini?, mengapa disetiap pernyataan demokrasi tapi disitu masih ada intervensi, tendensi bahkan ada yang di ancam hak kemanusiaannya. Apakah seperti ini demokrasi yang sebenarnya, saat berbicara di depan umum terlihat begitu ramah dan sopan tanpa ada satupun kata yang melanggar dengan hukum prundang-undangan yang seakan-akan semuanya tidak ada yang purlu di permasalahkan dengan hak suara, namun mengapa setelah itu harus melakukan negosiasi pada masyarakat dengan melakukan MONEY POLITIK yang bervareasi membeli suara rakyat dengan harga yang tak seberapa besar nilainya. Dengn demikian lantas.! Dimana letak Demokrasi yang sesungguhnya, sedangkan hal ini sudah menjadi rahasia umum bagi kita. Sebagaimana Prof.Dr. Muladi.SH mengatakan bahwa kriminalisasi terhadap tindak pidana suap mempunyai alasan yang sangat kuat, sebab kejahatan tersebut tidak lagi di pandang sebagai kejahatan konvensional, melainkam sebagai kejahatan luar biasa, karena karakter suap yang sangat kriminogin (dapat jadi sumber kejahatan lain) dan Viktimogin (secara potensial dapat merugikam belbagai demensi kepentingan.

Dengan krisisnya kesadaran kritis di tengah-tengah masyarakat, telah menjadikan manusia bergantung kepada orang lain dan melihat kehidupan sebagai hal yang harus dijalani dan diakhiri dengan hukum alam dan coretan takdir tuhan. Hal ini sebagaimana Pulo Freire berpendapat bahwa menempatkan kesadran kritis sebagai puncak kesadaran yang berada di atas dua kesadaran lainnya, yaitu kesadaran Magis dan kesadaran Naif. Dari sini bagaimana peran kita sebagai masyarakat bawah juga mempunyai rasa  peduli terhadap atas ternodainya demokrasi di negri kita ini, karena hal itulah salah satu yang menyebabkan terhambatnya kemajuan dalam suatu negara, bagaimana agar supaya demokrasi yang ada di negara kita ini benar-benar bisa menerapkan demokrasi yang sesungguhnya yakni membuang demokrasi pada tempatnya (dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat). Karena menurut Prof.Dr. Hamka juga menjelaskan bahwa kesadaran kritis ini sangatlah penting karena kesadaran kritis akan melahirkan tindakan dan sikap masyarakat sipil untuk hidup lebih baik dan turut serta terlibat sebagai aktor dari kemajuan zaman.



Penulis: Aminuddin
Advertisement
Ezzul Media Blogger Pemula yang Slalu ingin Belajar untuk Menulis Artikel yang Bermanfaat
  • https://www.masezzul.com