Usaha Nabi Muhammad Dalam Urusan Kemasyarakatan

Usaha Nabi Muhammad Dalam Urusan Kemasyarakatan

ejak Nabi Muhammad SAW hidup berumah tangga dan segala harta kekayaan itu diserahkan untuk diurusi oleh Nabi Muhammad SAW, maka semakin berkembanglah hal itu tidak mengurangi sedikitpun sifat-sifat Nabi Muhammad SAW. Beliau tetap memperhatikan kehidupan masyarakat lebih-lebih kepada orang-orang yang tidak mampu dan teraniaya, mereka dibantu, ditolong dan diselamatkan dari ketidakadilan. Disamping itu Nabi Muhammad SAW tetap menjalin hubungan yang baik dengan pembesar Quraisy, beliau tidak merasa tinggi hati atau menjadi sombong karena keadaan sosial nabi Muhammad SAW jauh lebih baik daripada mereka, justru Nabi Muhammad SAW sangat dihormati dan disegani oleh pembesar-pembesar kafir Quraisy, karena sifat beliau yang muliah.

Usaha Nabi Muhammad Dalam Urusan Kemasyarakatan


Kepedulian Sosial

Sejak Nabi Muhammad SAW hidup berumah tangga dan segala harta kekayaan itu diserahkan untuk diurusi oleh Nabi Muhammad SAW, maka semakin berkembanglah hal itu tidak mengurangi sedikitpun sifat-sifat Nabi Muhammad SAW. Beliau tetap memperhatikan kehidupan masyarakat lebih-lebih kepada orang-orang yang tidak mampu dan teraniaya, mereka dibantu, ditolong dan diselamatkan dari ketidakadilan. Disamping itu Nabi Muhammad SAW tetap menjalin hubungan yang baik dengan pembesar Quraisy, beliau tidak merasa tinggi hati atau menjadi sombong karena keadaan sosial nabi Muhammad SAW jauh lebih baik daripada mereka, justru Nabi Muhammad SAW sangat dihormati dan disegani oleh pembesar-pembesar kafir Quraisy, karena sifat beliau yang muliah.

Peletakan Hajar Aswad

Perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam membina masyarakat terus berlangsung, pada waktu Nabi Muhammad SAW berusia 35 tahun terjadilah banjir di kota Mekkah dan menghancurkan sebagian dinding Ka’bah. Melihat Ka’bah sebagai tempat disucikan maka pembesar Quraisy dari berbagai kalangan bersepakat untuk membangun kembali dan memperbaikinya seperti sediakala, akan tetapi apa yang terjadi setelah Ka’bah itu dapat diperbaiki, terjadilah perselisihan faham dalam masalah peletakan Hajar Aswad, siapakah yang paling berhak dan mempunyai kewenangan dalam mengembalikan atau meletakkan batu hajar Aswad ke tempat semula, hal ini hampir menjadikan pertikaian di antara para pembesar-pembesar itu, karena mereka saling merasa paling berhak dan berwenang.

Akhirnya ditemukanlah cara damai yang dapat disepakati, sebagai solusi untuk menyelesaikan pertikaian yaitu; Barang siapa yang masuk Masjidil Haram pada waktu pagi dan dia yang pertama, maka dialah yang berhak dan berwenang meletakkan hajar Aswad. Ternyata Nabi Muhammad SAW orang yang pertama masuk Masjidil Haram.

Dengan terpilihnya Nabi Muhammad SAW orang yang pertama masuk masjidil haram, maka Nabi Muhammad SAW tampil di tengah-tengah para pembesar, kemudian beliau menghamparkan surbannya lalu beliau meletakkan Hajar Aswa di tengahnya, kemudian mengajak para pembesar itu bersama sama mengangkat surban itu dan selanjutnya nabi Muhammad SAW yang meletakkan hajar Aswa ke tempat semula. Perisitiwa ini sangat mengagumkan dan Nabi Muhammad SAW mendapatkan gelar ‘Al Amin’ dari semua masyarakat Mekkah.
Advertisement

Baca juga:

Your Reactions:

Admin
Fusce justo lacus, sagittis vel enim vitae, euismod adipiscing ligula. Maecenas cursus gravida quam a auctor. Etiam vestibulum nulla id diam consectetur condimentum.